Senin, 19 November 2012

Persalinan Normal dengan Induksi???


Riffqi Kurniawati
 
Tak kunjung mulas dan melahirkan, operasi caesar mungkin bisa menjadi jawabannya. Tetapi tidak sedikit diantara ibu hamil yang ingin tetap dapat melahirkan secara normal, maka induksi merupakan jalan keluarnya. Induksi juga dilakukan untuk menghindari komplikasi yang lebih berbahaya, seperti gawat janin atau agar bayi yang lahir terlalu besar.
Mendengar kata induksi, pasti yang terbayang pada ibu hamil adalah ketakutan akan rasa sakit yang berkepanjangan. Benarkah induksi bisa sesakit itu? Apa sebenarnya  induksi itu? Mengapa harus dilakukan?

Induksi adalah
Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan (dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada). Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.
Kondisi harus dilakukan induksi:
  1. Ibu hamil tidak merasakan adanya kontraksi atau his. Padahal kehamilannya sudah memasuki tanggal perkiraan lahir bahkan lebih (sembilan bulan lewat).
  2. Induksi juga dapat dilakukan dengan alasan kesehatan ibu, misalnya si ibu menderita tekanan darah tinggi, terkena infeksi serius, atau mengidap diabetes

  1. Ukuran janin terlalu kecil, bila dibiarkan terlalu lama dalam kandungan diduga akan beresiko/membahayakan hidup janin.
  2. Membran ketuban pecah sebelum ada tanda-tanda awal persalinan.
  3. Plasenta keluar lebih dahulu sebelum bayi.
Risiko
Namun cara ini bukan berarti tanpa risiko. Risiko yang mungkin terjadi, diantaranya adalah:
  1. Adanya kontraksi rahim yang berlebihan. Itu sebabnya induksi harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat dari dokter yang menangani. Jika ibu merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan, biasanya dokter akan menghentikan proses induksi kemudian akan dilakukan operasi caesar.
  2. Janin akan merasa tidak nyaman sehingga dapat membuat bayi mengalami gawat janin (stress pada bayi). Itu sebabnya selama proses induksi berlangsung, dokter akan memantau gerak jani melalui cardiotopografi. Bila dianggap terlalu beresiko menimbulkan gawat janin, proses induksi akan dihentikan.
  3. Dapat merobek bekas jahitan operasi caesar. Hal ini bisa terjadi pada yang sebelumnya pernah dioperasi caesar, lalu menginginkan kelahiran normal.
  4. Emboli. Meski kemungkinannya sangat kecil sekali namun tetap harus diwaspadai. Emboli terjadi apabila air ketuban yang pecah masuk ke pembuluh darah dan menyangkut di otak ibu, atau paru-paru. Bila terjadi, dapat merenggut nyawa ibu seketika.
Proses induksi
Ada dua cara yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk memulai proses induksi, yaitu kimia dan mekanik. Namun pada dasarnya, kedua cara ini dilakukan untuk mengeluarkan zat prostaglande (prostaglandin) yang fungsinya sebagai zat penyebab otot rahim berkontraksi.
Secara kimia, si ibu akan diberikan obat-obatan khusus. Ada yang diberikan dengan cara diminum, dimasukan ke dalam vagina, diinfuskan, atau pun disemprotkan pada hidung. Biasanya, tak lama setelah salah satu cara kimia itu dilakukan, ibu hamil akan merasakan datangnya kontraksi.
Secara mekanik, biasanya dilakukan dengan sejumlah cara, seperti menggunakan metode stripping, vibrator, kateter, serta memecahkan ketuban.
Sakitkah?
Kontraksi akibat induksi mungkin terasa lebih sakit karena mulainya sangat mendadak. Itu sebabnya persalinan karena induksi cenderung memerlukan obat penawar rasa sakit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar