Jumat, 16 November 2012

TEHNIK PERTOLONGAN PERSALINAN SUNGSANG


PERSALINAN BAHU DAN LENGAN
(Part 3/3)

Oleh : Suchi avnalurini shariff 

3.   Persalinan bahu dengan cara Muller

Dimulai dari melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dibawah simfisis melalui ekstraksi disusul melahirkan lengan belakang di belakang ( depan sacrum ). Dipilih bila bahu tersangkut di Pintu Bawah Panggul
Gambar 9 : (kiri) Melahirkan bahu depan dengan ekstraksi pada bokong dan bila perlu dibantu dengan telunjuk jari tangan kanan untuk mengeluarkan lengan depan

Gambar 10 : (kanan) Melahirkan lengan belakang (inset : mengait lengan atas dengan telunjuk jari tangan kiri penolong)

Tehnik pertolongan persalinan bahu cara Muller :
Bokong dipegang dengan pegangan “femuropelvik”.Dengan cara pegangan tersebut, dilakukan traksi curam bawah pada tubuh janin sampai bahu depan lahir (gambar 9 ) dibawah arcus pubis dan selanjutnya lengan depan dilahirkan dengan mengait lengan depan bagian bawah. Setelah bahu dan lengan depan lahir, pergelangan kaki dicekap dengan tangan kanan dan dilakukan elevasi serta traksi keatas (gambar 10), traksi dan elevasi sesuai arah tanda panah) sampai bahu belakang lahir dengan sendirinya. Bila tidak dapat lahir dengan sendirinya, dilakukan kaitan untuk melahirkan lengan belakang anak (inset pada gambar 10). Keuntungan penggunaan tehnik ini adalah oleh karena tangan penolong tidak masuk terlalu jauh kedalam jalan lahir maka resiko infeksi berkurang.

Selasa, 13 November 2012

INVERSI UTERUS


Oleh Nia Dwi Yuliati

Kegawatdaruratan pada kala III yang dapat menimbulkan perdarahan adalah terjadinya inverse uterus. Inverse uterus adalah keadaaan dimana lapisan dala uterus (endometrium) turun dan keluar lewat ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sam pai komplit. Factor-faktor yang memungkinkan hal itu terjadi adalah atonia uteri, serviks yang masih membuka lebar, dan adanya kekuatan yang menarik fundus ke bawah (misalnya karena plasenta akreta, inkreta, dan perkreta, yang tali pusatnya ditarik keras dari bawah) atau ada tekanan pada fundus uteri dari atas (maneuver Crede) atau tekanan intraabdominal yang keras dan tiba-tiba (misalnya batuk keras atau bersin).
Melakukan traksi umbilicus pada pertolongan aktif III dengan uterus yang masih atonia memungkinkan terjadinya inversion uteri. Inversi uteri ditandai dengan tanda-tanda : Syok karena kesakitan, perdarahan banyak yang bergumpal, di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang nasih melekat, bila baru terjadi, maka prognosis cukup baik akan tetapi bila kejadiannya cukup lama, maka jepitan serviks yang mengecil akan membuat uterus mengalami iskemia, nekrosis, dan infeksi.
Secara garis besar tindakan yang dilakukan untuk mengatasai inverse uterus sebagai berikut :
1.      Memanggil bantuan anastesi dan memasang infis untuk cairan / darah pengganti dan pemberian obat.
2.      Beberapa senter memberikan tokolitik/ MgSO4 untuk melemaskan uterus yang terbalik sebelum dilakukan reposisi manual yaitu mendorong endometrium ke atas masuk ke dalam vagina dan terus melewati serviks sampai tangan masuk ke dalam uterus pada posisi normalnya. Hal itu dapat dilakukan sewaktu plasenta sudah terlepas atau tidak.
3.      Di dalam uterus plasenta dilepaskan secara manual dan bil berhasil dikeluarkan dari rahim dan sambil memberikan uterotonika lewat infuse atau i.m. tangan tetap dipertahankan agar konfigurasi uterus kembali normal dan tangan operator baru dilepaskan.

4.      Pemberian antibiotika dan trasnfusi darah sesuai dengan keperluannya.
5.      Intervensi bedah dilakukan bila karena jepitan serviks yang keras menyebabkan manuver di atas tidak bisa dikerjakan, maka dilakukan laparatomi untuk reposisi dan kalau terpaksa dilakukan histerektomi bila uterus sudah mengalami infeksi dan nekrosis.

Senin, 12 November 2012

ROBEKAN JALAN LAHIR




Oleh NIA DWI YULIATI

Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi dari robekan yang dialami selama proses melahirkan baik yang normal maupun dengan tindakan. Jalan lahir harus diinspeksi sesudah tiap kelahiran selesai sehingga perdarahan dapat dikendalikan (Oxorn, 2010 : 414-415)
Tempat-tempat perdarahan mencakup : luka episiotomy. Kehilangan darah dapat mencapai 200 ml. kalau arterial atau vena varikosa yang besar turut terpotong atau robek, darah yang keluar dapat berjumlah lebih banyak lagi. Karena itu pembuluh darah yang putus harus segera dijepit dengan klem untuk mencegah hilangnya darah. Vulva (vagina dan servik), uterus yang rupture, inversion uteri, hematom (pada masa nifas).
Di samping itu, ada factor-faktor lain yang turut menyebabkan kehilangan darah secara berlebihan kalau terdapat trauma pada jalan lahir. Factor-faktor ini mencakup : interval yang lama antara dilakukannya episiotomy dan kelahiran anak, perbaikan episiotomy setelah bayi dilahirkan tanpa semestinya ditunggu terlalu lama, pembuluh darah yang putus pada puncak episiotomy tidak berhasil dijahit, pemeriksaan inspeksi lupa dikerjakan pada cervik dan vagina bagian atas, kemungkinan terdapatnya beberapa tempat cedera tidak terfikirkan, ketergantungan pada obat-obat oxytocic yang disertai penundaan terlampau lama dalam mengeksplorasi uterus.
Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma. Pertolongan persalinan yang semakin manipulatif dan traumatik akan memudahkan robekan jalan lahir dan arena itu dihindarkan memimpin persalinan pada saat pembukaan serviks belum lengkap. Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomy, robekan spontan, perineum, trauma forceps atau vakum ekstraksi atau karena versi ekstraksi.
Robekan yang terjadi bisa ringan (lecet, laserasi), luka episiotomy, robekan perineum spontan derajat ringan sampai ruptur perinea totalis (sfingter ani terputus), robekan pada dinding vagina, forniks uteri, serviks, daerah sekitar klitoris dan uretra bahkan yang terberat, ruptur uteri. Oleh karena itu pada setiap persalinan hendaklah dilakukan inspeksi yang diteliti untuk mencari kemungkinan adanya robekan (Wiknjosastro, 2008).

Minggu, 11 November 2012

Sejarah Sesio Ceaseria

Sejarah Sesio Ceaseria

oleh Ni luh juliani

Sejarah Bedah caesar dilakukan di Kahura, Uganda. Sebagaimana diamati oleh R. W. Felkin tahun 1879. Pada 1316, Robert II dari Skotlandia dilahirkan dengan bedah caesar, ibunya Marjorie Bruce, kemudian meninggal. 
Bukti pertama mengenai ibu yang selamat dari bedah sesar adalah di Siegershausen, Swiss tahun 1500: Jacob Nufer, seorang pedagang babi, harus membedah istrinya setelah proses persalinan yang lama. Prosedur bedah sesar di waktu lampau mempunyai angka kematian yang tinggi. 
Di Britania Raya dan Irlandia, angka kematian akibat bedah sesar pada 1865 adalah 85%. Beberapa penemuan yang membantu menurunkan angka kematian antara lain: Pengembangan prinsip-prinsip asepsis, Pengenalan prosedur penjahitan rahim oleh Max Sänger pada 1882, Bedah sesar extraperitoneal dilanjutkan dengan sayatan mendatar rendah (Krönig, 1912), Perkembangan teknik anestesi, Transfusi darah, Antibiotik. Pada 5 Maret 2000, Inés Ramírez melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri dan berhasil mempertahankan nyawanya dan juga bayinya, Orlando Ruiz Ramírez. Ia dipercaya sebagai satu-satunya wanita yang melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri.